Monday, 28 April 2008

percakapan tentang Tuhan dan keyakinan

Seorang profesor filosofi yang atheis berbicara dalam kelasnya 
mengenai masalah antara ilmu pengetahuan dan Tuhan. Dia bertanya 
pada salah seorang mahasiswa baru.
 
Profesor (prof): Jadi, kamu percaya pada Tuhan?
Mahasiswa (ms): Tentu, prof.
Prof: Apakah Tuhan itu baik?
Ms: Tentu
Prof: Apakah Tuhan mahabisa?
Ms: Ya
Prof: Saudaraku meninggal karena kanker meskipun dia telah berdoa 
kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Sebagian besar manusia, teman-
teman sekitar kita akan menolong orang yang sakit. Tapi Tuhan tidak. 
Bagaimana Tuhan seperti ini bisa bisa dikatakan baik? Hmm?
Ms: (Mahasiswa diam)
Prof: Kamu tidak dapat menjawab bukan? Mari kita mulai lagi. Apakah 
Tuhan itu baik?
Ms: Ya, tentu.
Prof: Apakah iblis itu baik?
Ms: Tidak
Prof: Dari mana datangnya iblis?
Ms: Dari....Tuhan.
Prof: Tepat. Sekarang katakan padaku, apakah di dalam dunia ini 
terdapat iblis?
Ms: Ya.
Prof: Iblis berada dimana-mana bukan? Dan Tuhan tidak berbuat apapun 
bukan?
Ms: Ya.
Prof: Jadi, siapa yang menciptakan iblis? 
Ms: (Mahasiswa tersebut tidak menjawab)
Prof: Di dunia ini terdapat kesakitan? Kematian? Ketakutan? 
Kejelekan? Semua ini merupakan hal-hal yang mengerikan yang ada di 
dunia ini bukan?
Ms: Ya, prof.
Prof: Jadi, siapa yang menciptakan hal-hal tersebut?
Ms: (Mahasiswa tersebut tidak menjawab)
Prof: Ilmu pengetahuan menyebutkan bahwa kamu mempunyai 5 indera 
yang dipakai untuk mengetahui dan mengamati lingkungan sekitarmu. 
Katakan padaku nak, pernahkah kamu melihat Tuhan?
Ms: Tidak pernah prof.
Prof: Katakan padaku, apakah kamu pernah mendengar suara Tuhan mu? 
Ms: Tidak pernah prof.
Prof: Pernahkah kamu menyentuh Tuhan mu, merasakan Tuhan mu, mencium 
keberadaan Tuhan mu? Pernahkah kamu mempunyai pengalaman dengan 
inderamu mengenai kehadiran Tuhan?
Ms: Tidak pernah, prof.
Prof: Lalu kamu masih percaya kepada Nya?
Ms: Ya.
Prof: Secara emperis, terukur, percobaan perlakuan, ilmu pengetahuan 
mengatakan Tuhan mu tidak eksis. Apa yang dapat kamu katakan 
mengenai itu, nak ?
Ms: Tidak suatu apapun. Saya hanya mempunyai keyakinan saya.
Prof: Ya, keyakinan. Itulah masalah yang dihadapi ilmu pengetahuan.
 
 
Ms: Prof, apakah panas itu ada?
Prof: Tentu.
Ms: Dan tentu juga ada yang namanya dingin?
Prof: Ya.
Ms: Tidak prof. Itu tidak benar.
(Ruang perkuliahan itu menjadi sangat hening)
Ms: Prof, kau dapat merasakan panas. Lebih panas, super panas, mega 
panas, sedikit panas, atau tidak panas. Tapi kita tidak 
mempunyai `dingin'. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol 
dimana tidak terdapat panas. Tapi kita tidak dapat lebih dari itu. 
Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah suatu kata yang 
digunakan untuk mengambarkan ketidakadaan panas. Kita tidak dapat 
mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah lawan dari 
panas, prof, hanya ketidakadaan dari panas.
(Keheningan terasa saat mahasiswa tersebut berhenti bicara)
Ms: Bagaimana dengan kegelapan prof? Apakah ada yang namanya 
kegelapan?
Prof: Tentu. Apakah malam itu jika tidak ada kegelapan?
Ms: Kau salah lagi prof. Kegelapan adalah ketidakadaan dari sesuatu. 
Kau bisa mendapatkan cahaya redup, cahaya normal, cahaya terang, 
cahaya yang berkedip-kedip…Tapi jika kau tidak mempunyai cahaya, kau 
tidak memiliki apapun dan itu disebut  kegelapana, bukan? Dalam 
realitas kegelapan itu tidak ada. Jika ada, kau akan mampu membuat 
kegelapan semakin gelap bukan?
Prof: Jadi, apa maksudmu anak muda?
Ms: Prof, maksudku adalah premis filosofismu terbantahkan.
Prof: Terbantah? Dapat kau jelaskan bagaimana?
Ms: Prof, kau mencoba menjelaskan dalam premis dualitas. Kau 
berpendapat bahwa ada kehidupan dan kemudian ada kematian, Tuhan 
yang baik dan Tuhan yang jahat. Kau melihat konsep keTuhanan sebagai 
sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat kita ukur. Prof, ilmu 
pengetahuan bahkan tidak dapat menjelaskan suatu pikiran. Pikiran 
menggunakan listrik dan magnetik, tapi tidak pernah terlihat, tidak 
pernah dipahami sepenuhnya oleh siapapun. Untuk melihat kematian 
sebagai lawan dari kehidupan adalah tidak peduli terhadap kenyataan 
bahwa kematian tidak dapat eksis sebagai hal yang substansial. 
Kematian bukanlah lawan dari kehidupan, hanya ketidakadaan 
kehidupan. Sekarang, katakan padaku prof, apakah kau mengajarkan 
mahasiswamu bahwa mereka merupakan hasil evaluasi dari monyet ?
Prof: Jika kau menarik referensi dari proses evaluasi alam, tentu, 
saya mengajarkan hal tersebut.
Ms : Pernahkah kau mengamati proses evaluasi dengan mata kepalamu 
sendiri prof ?
Prof : (Profesor tersebut menggelengkan kepalanya dengan sedikit 
tersenyum, mulai memahami kemana pembicaraan tersebut mengarah).
Ms : Karena tidak ada seorangpun yang pernah mengamati bagaimana 
proses evaluasi dan bahkan tidak dapat menjelaskan bahwa proses ini 
masih terus berjalan, apakah kau tidak mengajarkan sesuatu yang 
hanya pendapatmu, prof?
(Kelas menjadi riuh dengan bisik-bisik pelan para mahasiswa)
Ms: Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah melihat otak 
professor?
(Seketika terdengar tawa riuh dalam kelas)
Ms: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak 
professor, menyentuhnya, merasakannya, atau menciumnya?... Tidak 
seorangpun bukan. Jadi, menurut ketetapan empiris, percobaan 
perlakuan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa professor tidak 
mempunyai otak. Dengan segala hormat prof, jadi bagaimana kami dapat 
mempercayai kuliahmu, prof?
(Ruangan menjadi hening. Profesor memandang kepada mahasiswa 
tersebut, mukanya tidak dapat di tebak) 
Prof: Aku rasa, kau dan teman-temanmu harus melihatnya dengan 
keyakinan, nak.
Ms: Tepat prof…penghubung antara manusia dan Tuhan adalah KEYAKINAN. 
Itulah yang menjaga semua hal bergerak sebagaimana mestinya dan 
kehidupan tetap berjalan.
 
Disempatin bacax..cm ambil beberapa menit dr hrmu *_*   

No comments: